Investasi Berbasis Masyarakat

Forest Investment Programme I

Periode
2017 - 2022
Bentuk Kerjasama
Indonesia - ADB
Lembaga Penanggung Jawab
PUPS
Sosial Media
         

Project Forest Investment Program 1 (FIP-1) yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Asian Development Bank (ADB) bertujuan untuk mendukung Pemerintah Indonesia dan masyarakat adat dalam upaya pengelolaan hutan berkelanjutan dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Proyek FIP-1 ini berupaya untuk dapat meningkatkan kapasitas dan penghidupan masyarakat di sekitar kawasan hutan dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik manfaat dari lingkungan maupun manfaat bagi penghidupan masyarakat. Keluaran yang diharapkan dari Proyek ini adalah untuk menudkung pelaksanaan REDD+ di Propinsi Kalimantan Barat. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan strategi kebijakan fiskal REDD+ yang efektif dan harmonis antara kebijakan nasional dan provinsi.

Executing Agency Proyek FIP-1 adalah Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan yang dalam pelaksanaannya dimandatkan kepada Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial (PUPS). Pelaksana Proyek (Implementing Agency) FIP-1 adalah Direktorat PUPS, Direktorat Bina Rencana Pemanfaatan Hutan (BRPH, Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari),  dan Direktorat Pengeloaan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi (PJLKK, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem). Sedangkan Unit Pelaksana proyek (Implementing Unit) adalah Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Kalimantan, Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPSKL) Wilaya VIII Pontianak, dan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum (BBTNBKDS). Di tingkat Provinsi, Proyek FIP-1 membentuk Tim Pengarah Teknis (Technical Steering Committee) yang dikepalai oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Proyek FIP-1 bekerjasama dengan UPTD KPH Kapuas Hulu Selatan, KPH Kapuas Hulu Utara, dan KPH Sintang Utara.

Lokasi proyek FIP-1 adalah di 17 desa (12 desa di Kapuas Hulu dan 5 desa di Sintang). Daftar desa sasaran FIP-1 adalah sebagai berikut:

Kabupaten Kapuas Hulu:

1. Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir. Luas desa 13.722 Ha (10.505 Ha di dalam Kawasan Hutan, dan 2.217 di wilayah Area Penggunaan Lain (APL));

2. Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu. Luas desa 15.889 Ha (14.855 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 1.034 Ha di APL);

3. Desa Sungai Uluk Palin, Kecamatan Putussibau Utara. Luas desa 31.362 Ha (29.887 ha di dalam Kawasan Hutan dan 1.475 di PL);

4. Desa Tanjung Lasa, Kecamatan Putussibau Utara. Luas desa 177.985 Ha (175.678 di dalam Kawasan Hutan dan Kawasan Konservasi/Taman Nasional Betung Kerihun, dan 2.307 Ha di wilayah APL);

5. Desa Selaup, Kecamatan Bunut Hulu. Luas desa 11.245 Ha (6.843 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 4.402 di wilayah APL);

6. Desa Nanga Betung, Kecamatan Boyan Tanjung. Luas desa 4.313 Ha (3.761 di dalam Kawasan Hutan dan 552 Ha di wilayah APL);

7. Desa Nanga Sangan, Kecamatan Boyan Tanjung. Luas desa 3.493 Ha (1.029 di dalam Kwasan Hutan dan 2.464 di wilayah APL);

8. Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah. Luas desa 14.393 Ha (13.390 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 3 Ha di APL);

9. Desa Bungan Jaya, Kecamatan Putussibau Selatan. Luas desa 254.661 Ha (keseluruhan ada di dalam wilatah TNBK);

10. Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan. Luas desa 109.588 Ha (keseluruhan ada di dalam wilayah TNBK);

11. Desa Vega, Kecamatan Selimbau. Luas desa 11.779 Ha (11.760 di dalam wilayah TNDS, dan 19 Ha di wilayah APL); dan

12. Desa Pulau Majang, Kecamatan Badau. Luas desa 20.159 Ha (11.45 di dalam wilayah TNDS, dan 8.704 di wilayah APL).


Kabupaten Sintang:

13. Desa Kayu Dujung, Kecamatan Ketungau Tengah. Luas desa 9.399 Ha (9.257 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 142 di wilayah APL);

14. Desa Radin Jaya, Kecamatan Ketungau Tengah. Luas desa 12.180 Ha (12.020 Ha di dalam Kawasan Hutan, dan 160 di wilayah APL);

15. Desa Senangan Jaya, Kecamatan Ketungau Tengah. Luas desa 2.408 Ha (2.397 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 41 Ha di wilayah APL);

16. Desa Senangan Kecil, Kecamatan Ketungau Tengah. Luas desa adalah 2.076 Ha (1.703 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 373 Ha di wilayah APL); dan

17. Desa Tanjung Sari, Kecamatan Ketungau Tengah. Luas desa adalah 1.452 Ha (1.413 Ha di dalam Kawasan Hutan dan 39 ha di wilayah APL).


Selain 17 desa tersebut, FIP-1 juga memfasilitasi pembentukan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dan kegiatan patroli karhutla di 13 desa di dalam wilayah TNBKDS. Ke-sepuluh desa tersebut adalah: Sepadan, Semangit, Lubuk Pengail, Laut Tawang, Sekulat, Datah Dian, Madang Permai, Melembah, Lanjak Deras, Tempurau, Nanga Leboyan, Mensiau, dan Senunuk.

Proyek FIP-1 memiliki dua outcome utama yaitu:

(i) Penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 3,7 juta ton CO2e pada 2026; dan

(ii) Peningkatan pendapatan masyarakat di Kapuas Hulu sebesar 20% (baseline di 12 desa target di Kapuas Hulu adalah Rp 26 juta per KK per tahun, sedangkan di lima desa target di Sintang adalah Rp 19 juta per KK per tahun.

Sedangkan out put proyek ada tiga, yaitu:

(i) Output-1: Pelaksanaan Model Kegiatan REDD+ berbasis masyarakat di empat KPH di Kapuas Hulu dan di Sintang;

(ii) Output-2: Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pelaksanaan REDD+ di Tingkat Sub Nasional; dan

(iii) Output 3: Harmonisasi regulasi terkait REDD+ di Provinsi Kalimantan Barat dengan kebijakan fiskal nasional.

Kegiatan-kegiatan FIP-1 di Output-1:

1. Pengembangan agroforestry seluas 1,880 Ha di desa-desa target di Kapuas Hulu dan Sintang;

2. Pelaksanaan kegiatan Assisted Natural Regeneration (ANR) seluas 6.000 Ha di empat KPH di Kapuas Hulu dan Sintang;

3. Perlindungan terhadap kebakaran hutan dan lahan secara langsung pada 5.000 Ha dan secara tidak langsung sebesar 91.000 Ha di dalam wilayah Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum;

4. Pembangunan fasilitas air bersih di 17 desa (masing-masing desa 2 unit);

5. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di Desa Tanjung Lokang (Kapuas Hulu) dan Desa Kayu Dujung (Sintang), dengan kapasitas masing-masing 20kVA;

6. Pemasangan fasilitas solar panel di 250 unit rumah dan fasilitas umum di desa Radin Jaya dan Tanjung Sari, Sintang;

7. Rehabilitasi jalan desa di 17 desa, masing-masing sepanjang 2 km dan lebar jalan 2 m;

8. Pembangunan empat unit rumah pengolahan komoditas pertanian (karet, lada, sereh wangi, kopi, dan produk olahan ikan) di 4 KPH;

9. Pembangunan galeri hasil hutan di Pontianak;

10. Pembangunan rumah persemaian di 3 KPH (Kapuas Hulu Utara, Kapuas Hulu Selatan, dan Sintang Utara);

11. Pelaksanaan program peningkatan perekonomian masyarakat melalui empat program unggulan: madu, ikan air tawar, kerajinan tangan, dan kebun pekarangan;

12. Pengembangan community based forest management (CBFM) melalui skema Perhutanan Sosial seluas 17.000 ha;

13. Pelatihan-pelatihan pemberdayaan masyarakat, kelompok perempuan, kelompok Masyarakat Hukum Adat (MHA), staff  

Kegiatan-kegiatan FIP-1 di Output 2:

1. Penguatan kapasitas pemerintah daerah terkait perencanaan dan pelaksanaan kegiatan REDD+ di Provinsi dan Kabupaten;

2. Dukungan penguatan KPH melalui pengadaan sarana-prasarana operasional KPH, pelatihan-pelatihan terkait pengelolaan hutan lestari, perubahan iklim, pengamanan hutan;

3. Penyusunan regulasi terkait REDD+;

4. Penyusunan dan operasionalisasi Grievance Redress Mechaniam (GRM); dan

5. Penguatan kapasitas kelembagaan REDD+ di Provinsi terkait safeguard untuk mendukung pelaksanaan REDD+.

Kegiatan-kegiatan FIP-1 di Output 3:

1. Penyusunan pedoman harmonisasi regulasi di sub-nasional terkait REDD+ dengan kebijakan fiskal nasional;

2. Penyusunan regulasi terkait BSM (benefit sharing mechanism, insentif, dan kebijakan fiskal) untuk mendukung pelaksanaan REDD+; dan

3. Penyusunan proposal untuk memobilisasi pendanaan tambahan untuk keberlanjutan proyek.

Capaian proyek FIP-1 terhadap indikator proyek dari sejak awal pelaksanaan kegiatan disajikan dalam tabel berikut:

No.

Target Output Proyek

Wilayah

2018

2019

2020

2021

2022

STATUS KINERJA PROYEK

1.

OUTCOME 1:

Penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 3,7 juta ton CO2e pada 2026

17 Desa (4 KPH)

294.336 ton CO2e

681.427,74 ton CO2e

1.021.871,05 ton CO2e

1.367.465 ton CO2e

1.545.490

ton CO2e

ON-TRACK

2.

OUTCOME 2:

Peningkatan pendapatan masyarakat di Kapuas Hulu sebesar 20% (baseline di 12 desa target di Kapuas Hulu adalah Rp 26 juta per KK per tahun, sedangkan di lima desa target di Sintang adalah Rp 19 juta per KK per tahun

12 Desa (Kapuas Hulu)

Rp. 26.000.000

Rp. 30.408.000

Rp 35.896.000

Rp 41.272.000

Sedang disurvei

ON-TRACK

5 Desa (Sintang)

Rp. 19.000.000

Rp. 19.950.000

Rp. 21.294.000

Rp 23.856.000

Sedang disurvei

ON-TRACK

3.

Output-1: Pelaksanaan Model Kegiatan REDD+ berbasis masyarakat di empat KPH di Kapuas Hulu dan di Sintang

17 Desa, 4 KPH

0,0687

(OFF TRACK)

0,2192

(OFF TRACK)

0,3797

(FOR ATTENTION)

0,9579

(ON TRACK)

1,1967

(ON TRACK)

ON-TRACK

4.

Output-2: Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pelaksanaan REDD+ di Tingkat Sub Nasional

Kabupaten dan Provinsi

0,0396

(OFF TRACK)

0,0950

(OFF TRACK)

0,2583

(FOR ATTENTION)

0,4317

(ON TRACK)

0,5413

(ON TRACK)

ON-TRACK

5.

Output 3: Harmonisasi regulasi terkait REDD+ di Provinsi Kalimantan Barat dengan kebijakan fiskal nasional

Provinsi dan Nasional

0,0233

(OFF TRACK)

0,1633

(OFF TRACK)

0,0700

(FOR ATTENTION)

0,1283

(ON TRACK)

0,3500

(ON TRACK)

ON-TRACK


Catatan: Penghitungan status capaian proyek mengikuti aturan dalam DMF (designed monitoring framework) dari ADB. Masing-masing Output mendapat pembobotan dengan distribusi merata (100% dibagi ke dalam 20 sub indikator). Penentuan status proyek berdasarkan skor kumulatif dari tiga output dengan kriteria (ON TRACK  0,85; FOR ATTENTION  ≥ 0.70 to < 0.85; dan AT RISK  < 0.69).

Informasi Dokumen belum tersedia.

Informasi galeri belum tersedia.